Bulan Muharram dan Amalan-Amalannya

Bulan Muharram dan Amalan-Amalannya

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلََّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِيْنَةَ وَجَدَهُمْ يَصُوْمُوْنَ يَوْمًا يَعْنِى عَاشُوْرَاءَ فَقَالُوْا هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ وَهُوَ يَوْمٌ نَجَّى اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَأَغْرَقَ آلَ فِرْعَوْنَ فَصَامَ مُوْسَى شُكْرًا ِللهِ فَقَالَ أَنَا أَوْلَى بِمُوْسَى (البخارى)

Artinya:”Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa Nabi saw. ketika beliau tiba di Madinah, beliau mendapati penduduk Madinah sedang melakukan puasa dalam suatu hari, yakni pada hari ‘Asyura, (Nabi bertanya kepada mereka:hari apakah ini, sehingga kamu melakukan puasa?) Mereka menjawab: Ini adalah hari yang agung dan merupakan suatu hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Musa as. dan menenggelamkan keluarga Fir’aun, kemudian Nabi Musa berpuasa (sebagai tanda) syukur kepada Allah. Maka Nabi bersabda: Saya-lah yang lebih berhak (menghormati)  Nabi Musa (HR.Al-Bukhori)

Muharram dan Asyura

Pada surat at-Taubah ayat 36 diterangkan bahwa bilangan bulan menurut peredaran bulan ada dua belas. Di antara dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai as-Syahr al-Haram (bulan haram). Mengapa demikian? Karena bulan-bulan tersebut merupakan bulan-bulan yang harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan.. Keempat bulan tersebut, tiga bulan berturut-turut, yaitu bulan Dzul Qa’idah, Dzul Hijjah, dan satu bulan lagi yaitu bulan Rajab (bulan ketujuh). Dihormatinya keempat bulan tersebut, karena pada bulan-bulan tadi  merupakan bulan untuk pelaksanaan Haji ke Baitullah, mulai dari persiapan untuk pergi Haji yang dilaksanakan pada bulan Dzul Qa’idah,  bulan Dzul Hijjah digunakan untuk pelaksanaan Haji  itu sendiri sampai perjalanan pulang dari Haji yang dilaksanakan pada bulan Muharram dan bulan Rajab untuk melaksanakan Umroh.

Bulan Muharram merupakan salah satu nama bulan yang digunakan dalam  kalender Hijriyyah  dan menarik untuk selalu dikaji ulang. Karena bulan Muharram tersebut disamping merupakan nama bagi bulan pertama dalam kalender Hijriyyah juga bulan Muharram mempunyai arti khusus bagi kaum Muslimin karena pada bulan tersebut terdapat peristiwa bersejarah, yaitu peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah al-Mukarromah menuju Madinah al-Munawwaroh yang dijadikan sebagai dasar penetapan awal tahun dalam Islam.

Bagi kaum Syi’ah bulan Muharram mempunyai tempat tersendiri dalam tradisi dan merupakan kesempatan beragama yang istimewa. Karena hal ini berkaitan dengan adanya peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram , yaitu peistiwa terbunuhnya cucu Rasulullah saw. dari Fatimah az-Zahra yang bernama Husein bin Ali bin Abi Thalib bersama pengikut dan keluarganya di padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu’awiyah, putra Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Sehingga dikalangan mereka  puncak ekspresi keagamaan yang bercorak luapan kesedihan dan sekaligus janji pengorbanan tersebut dikenal dengan sebutan  “Asyura”.

Di dalam Islam “Asyura” dipandang sebagai hari yang memiliki keutamaan, karena pada hari tersebut Allah swt.  telah menentukan banyak peristiwa yang terjadi di muka bumi yang menyangkut pengembangan agama tauhid. Di daerah pantai Barat Pulau Sumatera misalnya, dikenal istilah “Tabut”, yaitu upacara selamatan besar-besaran berupa jamuan makan, minum dan arak-arakan yang biasa dilakukan oleh penduduk pantai tersebut pada hari Asyura. Arak-arakan tersebut terbuat dari batang pisang yang  disusun rapi dan dihiasi dengan bunga yang beraneka warna, dan apabila upacara selamatan telah selesai, kemudian tabut tersebut dibawa ke pinggir pantai. Begitu pula di Daerah Istimewa Yogyakarta setiap datang bulan Muharram biasanya pada malam 1 Muharram Kraton Yogyakarta menyelenggarakan upacara yang dikenal dengan istilah “Labuhan”, yaitu upacara melakukan sesajen dengan membuat makanan yang beraneka macam yang diperuntukkan untuk penguasa pantai Selatan (Nyi Roro Kidul)  yang diakhiri dengan melepaskan makanan (sesajen) tersebut di pantai yang  akan diperebutkan oleh masyarakat yang menyaksikannya.

Oleh karena itu, dengan melihat adanya keutamaan yang terjadi pada hari Asyura, maka tidak heran jika kemudian muncul hadis-hadis maudhu’ (palsu) yang menggambarkan tentang keutamaan hari Asyura, seperti hadis yang artinya:”Bersedekah pada hari Asyura dengan satu dirham nilainya sama dengan 70.000. dirham”.

Keutamaan dan Amalan-amalan Pada Bulan Muharram

Setelah kita melihat berbagai peristiwa yang terjadi pada bulan Muharram dan hari Asyura serta keutamaan-keutamaan yang dimilikinya. Apa yang perlu dilakukan oleh umat Islam dalam menyambut dan mengisi bulan Muharram tersebut. Apakah kita akan melakukan hal yang sama seperti yang telah dilakukan oleh sebagian umat Islam seperti di atas.

Untuk menyambut hari yang utama itu Nabi Muhammad saw. menganjurkan pada umatnya agar melakukan ibadah puasa pada bulan Muharram, karena puasa pada bulan Muharram merupakan puasa yag paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ (رواه الترمذى وأبو داود وابن ماجه وأحمد)

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Huraerah ia berkata: Rasulullah saw bersabda:Puasa (sunnat) yang paling utama setelah (puasa) di bulan Ramadhan adalah (puasa) pada bulan Allah yang almuharram (puasa Asyura), dan shalat sunnat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat lail”. (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Hadits riwayat at-Tirmidzi , Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad di atas menunjukkan bahwa puasa sunat yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan adalah puasa sunat pada bulan Muharram yang dikenal dengan puasa Asyura.

Beberapa nash hadis menerangkan bahwa di masa Jahiliyah kaum Quraisy telah terbiasa melaksanakan puasa ‘Asyura, dan Nabi saw. ketika berada di Makkah  juga melakukannya. Tatkala Nabi saw. hijrah ke Madinah beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut, dan beliau tetap berpuasa bahkan memeritahkan kepada para shahabat untuk melakukannya, dan keadaan seperti itu tetap dilakukan sampai diwajibkannya puasa pada bulan Ramadhan. Hal ini dijelaskan dalam beberapa hadits diantaranya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ كَانَ رَمَضَانُ الْفَرِيضَةَ وَتُرِكَ عَاشُورَاءُ فَكَانَ مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ لَمْ يَصُمْهُ (رواه البخارى)

Artinya: “Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata: Adalah (dahulu) pada hari Asyura orang Quraisy berpuasa pada masa Jahiliyah, dan Nabi saw. (pada waktu di Makkah) pun tetap melakukannya. Ketika sampai di Madinah, beliau tetap melakukan puasa Asyura bahkan memerintahkan (kepada para shahabatnya) untuk berpuasa. Tatkala (puasa) Ramadhan diwajibkan, maka ditinggalkannya puasa Asyura. Beliau bersabda: Barangsiapa mau, maka boleh berpuasa, dan barangsiapa mau, maka boleh meninggalkannya”. (HR al-Bukhari)

Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura

Dikalangan para ulama terdapat perbedaan apakah yang dimaksud Asyura itu hari kesembilan atau kesepuluh pada bulan Muharram ? Ibnu Abbas berpendapat bahwa hari Asyura  adalah hari kesembilan pada bulan Muharram, sedang ulama Jumhur berpendapat bahwa hari Asyura adalah hari kesepuluh pada bulan Muharram. Pendapat ini dipegangi oleh Sa’id bin al-Musayyab, al-Hasan al-Bashri, Malik, Ahmad dan Ishaq. Pendapat kedua ini diperkuat oleh az-zain al-Munir yang mengatakan bahwa kebanyak ulama berpendapat: “Asyura” adalah hari kesepuluh  dari bulan Muharram dan ini sesuai dengan asal pengambil kata “Asyura”. Dari kedua pendapat tersebut, maka pendapat kedua adalah pendapat yang paling kuat (Asyura adalah hari kesepuluh), karena dalam beberapa hadits dinyatakan secara tegas bahwa puasa Asyura dilakukan pada hari kesepuluh.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ عَاشُورَاءَ يَوْمُ الْعَاشِرِ (الترمذى:الصوم عن رسول الله:ماجاء عاشوراء اى يوم هو)

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah saw. Memerrintahkan puasa Asyura pada hari kesepuluh”. (HR at-Tirmidzi, Kitab ash-Shaum ‘an Rasulillah, Bab Maa Jaa Asyura ayyu yaumin hua)

Dalam kitab Tuhfah al-Ahwadzi disebutkan bahwa pelaksanaan puasa pada bulan Muharram terbagi pada tiga cara, yaitu; 1) Puasa pada hari ke-10 dengan 1 hari sebelumnya atau sesudahnya, 2) Puasa pada hari ke-9 dan ke-10, dan 3) Puasa hanya pada hari ke-10 saja. Dari ketiga cara pelaksanaan puasa pada bulan Muharram manakah cara yang paling kuat?

Beberapa hadits Nabi seperti hadits dari Aisyah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, hadits dari Abu Huraerah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud , at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad menjelaskan tentang keutamaan puasa Asyura dan sebab disyariatkannya.

Adapun puasa Tasu’a dijelaskan dalam beberapa hadits diantaranya;

  1. Hadits riwayat Ibnu Abbas

قَالَ: حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَصَارَى، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم :”فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ، فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهْ صلعم (رواه مسلم وأبو داود)

Artinya:”Dari ibnu Abbas ra. Ia berkata: Ketika Rasulullah SAW. berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh para Shahabatnya juga berpuasa, maka mereka berkata: Wahai Rasulullah SAW. hari Asyura itu hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani. Maka Rasululllah SAW. bersabda; Kalau demikian, Insya Allah tahun depan kita berpuasa pada hari yang kesembilan”. (HR. Muslim dan Abu Dawud)”.

  1. Hadits riwayat Ibnu Abbas

قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ الْيَوْمَ التَّاسِعَ

(إبن ماجه:الصيام:صيام يوم عاشوراء)

Artinya: Ia (Ibnu Abbas berkata); Rasulullah saw bersabda: Seandainya aku (Rasulullah) masih hidup sampai tahun depan, maka aku akan berpuasa pada hari kesembilan”. (HR Ibnu Majah, Kitab ash-Shiyam, Bab Shiyam yaumi Asyura)

Kedua hadits tersebut menjelaskan bahwa Nabi telah berniat untuk melakukan puasa pada hari kesembilan meskipun sampai akhir hanyatnya tidak bisa terlaksana.

Dari beberapa hadits yang menjelaskan tentang puasa Asyura dan Tasu’a dapat disimpulkan bahwa puasa Asyura sebaiknya dilaksanakan sesudah puasa Tasu’a, karena Nabi Muhammad saw telah melakukan puasa Asyura pada hari kesepuluh dan beliaupun telah berniat puasa pada hari kesembilan, dan inilah pendapat (cara) yang paling kuat. Imam an-Nawawi berkata: Adapun sebab disunatkannya puasa Tasu’a bersama-sama dengan puasa Asyura adalah agar tidak menyamai puasanya orang Yahudi, seperti yang ditegaskan dalam hadits riwayat Ibnu Abbas

Karena secara umum, orang muslim  dilarang melakukan perbuatan yang menyerupai orang non Muslim (Yahudi, Nashrani dan lainnya) dalam perbuatan yang bersifat ibadah.

Adapun keutamaan puasa Asyura pada bulan Muharram itu, dijelaskab oleh beberapa hadis di antaranya sebagai berikut:

1.Puasa Asyura merupakan salah satu dari empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW.

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ: أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صلعم صِيَامَ عَاشُوْرَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلاَثَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ (رواه أحمد والنسائى)

Artinya: Dari Hafshoh ia berkata: Ada empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi SAW. yaitu:puasa “Asyura tanggal 10 dan puasa tiga hari setiap bulan serta shalat dua roka’at sebelum shubuh”. (HR.Ahmad dan an-Nasai).

2.Puasa Asyura mempunyai keutamaan dapat menghapus dosa tahun yang lal

عَنْ أَبِي قّتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: سُئِلَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلعم عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ والْبَقِيَةَ، وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ:يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ (رواه الجماعة إلا البخارى والترمذى)

Artinya: Dari Qotadah ra. Ia berkata:Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah, beliau menjawab:Puasa pada hari Arafah dapat menghapus dosa tahun lalu dan tahun  yang akan datang. Dan beliau ditanya lagi tentang puasa Asyura, maka beliau menjawab: Puasa Asyura dapat menghapus dosa yang lalu”. (HR. al-Jama’ah, kecuali al-Bukhori dan at-tirmidzi)

(Wallahu a’lam bish shawab)

Sumber: Majalah SM No 1 Tahun 2009

WASHIYAT RASULULLAH TENTANG GENERASI MUDA DAN PERJUANGAN

WASHIYAT RASULULLAH TENTANG GENERASI MUDA DAN PERJUANGAN

oleh: Buya Rusman Mukhtar

Rasulullah saw memberikan washiyat tentang Generasi Muda, agar mereka diberi peran strategis dalam perjuangan ke depan, sebagaimana sabda beliau:

” أوصيكم بالشباب خيراً. فإنهم أرق أفئدة.. لقد بعثني الله بالحنيفية السمحة.. فحالفني الشباب وخالفني الشيوخ “. رواه البخاري.

Aku washiyatkan kepada kalian, hadapilah generasi muda itu dengan baik, sesungguhnya mereka mempunyai perasaan yang sangat halus, sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan ketulusan dan kemudahan, di depanku generasi muda dan di belakangku orang-orang tua.

Dr. Hasan Syamsi Basya mengatakan bahwa:
الشباب هم عماد الحاضر وأمل المستقبل
Generasi muda itu adalah pilar zaman sekarang dan harapan masa depan.

Nabi Muhammad saw memberikan pesan yang jelas bahwa generasi muda harus diberikan kepercayaan dan peran yang penting dalam perjuangan dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Saidina Ali bin Abi Thalib adalah sosok seorang pemuda yang telah berani melaksanakan tugas menggantikan posisi Rasulullah untuk tidur di kamar Rasulullah saw ketika orang-orang kafir Quraisy telah mengepung rumah beliau dengan maksud membunuhnya.

Usamah bin Zaid adalah sosok seorang pemuda pemberani dan memiliki kemahiran dalam peperangan. Dia adalah panglima perang yang terakhir yang diangkat oleh Rasulullah saw ketika dia masih berusia 18 tahun, masih sangat muda remaja. Ternyata dia berhasil dan berkali-kali merebut kemenangan memimpin peperangan melawan kaum kafir.

Sudah saatnya generasi tua hari ini mau memberi kepercayaan kepada generasi muda. Janganlah menjadi generasi tua yang selalu menjadi juara bertahan tidak mau memberi kesempatan kepada anak muda. Apalagi menjadi orang tua yang selalu curiga kepada anak muda, pada hal mereka adalah anak-anak muda kita. Apakah kita harus menunggu generasi muda dari negara lain yang akan memimpin negeri ini?

Tantangan perjuangan dalam kehidupan beragama dan bernegara ke depan akan semakin besar, dan persaingan akan semakin ketat. Kita butuh pejuang-pejuang yang tangguh, mereka adalah generasi muda, karena mereka masih kuat, mereka memiliki semangat yang tinggi, mereka memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas, yang pasti mereka lebih energik.

Beri mereka kepercayaan, beri mereka kesempatan, karena masa depan adalah milik mereka. Ikutilah uswah yang diberikan oleh Rasululullah saw yang mengangkat Usamah bin Zaid di kala usianya baru belasan tahun. Memang sebuah keputusan yang sangat berani dan kontroversial yang dilakukan oleh Rasululullah, tetapi ada pesan yang jelas yang disampaikan beliau: “bahwa perjuangan untuk melaksanakan tugas risalah dakwah Islamiyah ke depan harus diserahkan kepada generasi muda”. Pemuda di depan orang tua di belakang, insya Allah kita menang dan tidak akan menang-is.

Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb

Sumber : sangpencerah.id

Hidup dengan Energi Positif

Hidup dengan Energi Positif

Pagi hari, sambutlah  sinar matahari dengan jiwa berseri.  Menghirup udara segar dengan aura jiwa menyala. Sinar sang surya dan seluruh energi yang terhampar di alam raya ini dianugerahkan Tuhan untuk disyukuri dan dimanfaatkan secara positif. Bisa berolahraga ringan, sedang, dan berat agar tubuh dan pikiran segar dan sehat. Tergantung kadar masing-masing. Apapun bisa dilakukan dengan ringan dan riang hati. Sebagai wujud kesyukuran dan memulai hidup dengan energi positif.

Bagi muslim tentu membuka lembaran hari dengan shalat subuh. Ada yang ambil shalat tahajud, tanpa perlu publikasi. Meski masih beribadah di rumah karena pandemi, tak mengurangi nilai taqarrub kepada Allah. Lakukan dengan khusyuk dan pancarkan fungsi ibadah itu untuk membangun kesalihan diri dan lingkungan. Menyambung hati, pikiran, dan seluruh diri kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa dengan sepenuh jiwa tulus dan kepasrahan. Tundukkan diri sepenuh jiwa raga, sehingga hidup optimis, penuh pengharapan positif, dan terang jalan. Itulah waktu angkatan pertama the first time dalam hidup orang beriman. Sesudahnya bisa tadarus dan membaca, agar horizon kehidupan luas dan sarat makna. Lalu bersebaran di muka bumi meraih rizki dan anugerah Allah, serta berbuat kebajikan dalam hidup. Hidup itu indah kan?

Jika memulai hidup dengan positif, maka energi yang bersemi dalam diri dan yang dihasilkan pun insya Allah positif. Kalau energinya negatif, bawaannya akan negatif.  Hatta dalam menghadapi masalah, sikapi dengan jiwa positif disertai ikhtiar dan penuh pengharapan. Ambillah spirit dan nilai Surat al-Insyirah  (Kelapangan) yang artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu. Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan sebutan nama (mu) bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS 94: 1-8).

Menjadi Insan Beriman

Surat al-Insyirah  mengajarkan hidup “Lapang”, agar insan beriman tidak serba sempit dan negatif dalam menghadapi musibah, masalah, dan rintangan. Hidup memang berwarna, ada nikmat ada masalah, ada suka dan duka, yang niscaya dihadapi dengan jiwa lapang layaknya para kesatria. Nabi dan Rasul pun menghadapi banyak masalah, rintangan, dan jalan terjal dalam kehidupan dan mengemban risalah Tuhan. Kalau Allah menghendaki pasti semuanya dimudahkan tanpa masalah. Allah mengingatkan orang beriman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216).

Masalah bisa datang dan pergi dalam hidup pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam relasi semesta. Semuanya untuk disikapi dan dihadapi. Ada yang bisa diselesaikan, boleh jadi ada yang tidak terselesaikan sebagaimana mestinya. Jangan diratapi. Apalagi disikapi dengan amarah, sesal, kebencian, dan segala luapan negatif.

Masalah jangan memenjara diri kita menjadi sosok yang garang, pendendam, pemarah, dan penyebar energi negatif atasnama apapun. Jika hidup kita merasa benar dan lurus, ingatlah semua insan ada kelemahan, jangan gampang menghakimi dan menghujat orang lain. Tazakku atau merasa diri paling bersih dan suci itu juga tidak dibenarkan Tuhan.

Sikapi dan jalani hidup dengan jiwa “abdullah”  (hamba Allah yang selalu beribadah dan pasrah kepada-Nya) dan “khalifatul fil-ardl” (wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi) sebagaimana teladan utama para Nabi dan Rasul serta orang-orang bijak nan cerdas dan mulia hati. Tugas dan kewajiban kita dalam hidup ini ikhtiar lewat segala usaha dan do’a yang sungguh-sunguh, selebihnya tawakal dan sabar kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Hal yang terbaik berbuatlah yang positif dan membawa kemaslahan, kebaikan, dan kemajuan hidup meskipun setahap demi setahap. Membangun sesuatu itu lebih sulit ketimbang mengkritik sesuatu, meski kritik itu tetap baik. Tapi pekerjaan utama hidup kita itu berbuat sesuatu untuk memakmurkan kehidupan sebagaimana fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi.

Pesan untuk Milenial

Apalagi bagi generasi muda dan milenial. Perjalanan hidup bagaikan menggelar sajadah panjang. Jangan hidup untuk sekadar hidup, tapi hidup bernilai dan bertujuan raih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jalani hidup dengan kesungguhan, lapang hati, luas pandangan, dan penuh optimisme. Junjungtinggi akhlak mulia, boleh salah kemudian segera berbenah. Cintai orangtua dan sesama tanpa aura benci dan saling memusuhi.  Jangan larut dengan dunia medsos yang negatif, hoaks, kebencian, amarah, dan permusuhan.

Gunakan medsos untuk silaturahmi, kebaikan, cari ilmu, mengasah diri, dan sesuatu yang produktif. Bukalah banyak jalan dalam mengembangkan diri dan berikhtiar meraih cita-cita. Belajar dari orang lain, tapi jangan pernah menjadi dan harus sama dengan orang lain. Jalin sebanyak mungkin silaturahmi, persahabatan, dan relasi tanpa sekat agama dan batas sosial lainnya. Senang bila ada orang lain sukses, bantu  sebisa mungkin manakala ada sesama yang  bermasalah. Jadikan hidup kita berguna dan bermakna. Terus melangkah untuk berbuat yang terbaik dengan gigih, sabar, dan mengerahkan energi positif. Jangan berhenti mendekat dan bermunajat kepada Dzat Pemilik dan Penguasa Alam Semesta. Insya Allah hidup menjadi lapang dan diberkahi Allah.

Sumber : web Muhammdiyah