WASHIYAT RASULULLAH TENTANG GENERASI MUDA DAN PERJUANGAN

WASHIYAT RASULULLAH TENTANG GENERASI MUDA DAN PERJUANGAN

oleh: Buya Rusman Mukhtar

Rasulullah saw memberikan washiyat tentang Generasi Muda, agar mereka diberi peran strategis dalam perjuangan ke depan, sebagaimana sabda beliau:

” أوصيكم بالشباب خيراً. فإنهم أرق أفئدة.. لقد بعثني الله بالحنيفية السمحة.. فحالفني الشباب وخالفني الشيوخ “. رواه البخاري.

Aku washiyatkan kepada kalian, hadapilah generasi muda itu dengan baik, sesungguhnya mereka mempunyai perasaan yang sangat halus, sesungguhnya Allah telah mengutusku dengan ketulusan dan kemudahan, di depanku generasi muda dan di belakangku orang-orang tua.

Dr. Hasan Syamsi Basya mengatakan bahwa:
الشباب هم عماد الحاضر وأمل المستقبل
Generasi muda itu adalah pilar zaman sekarang dan harapan masa depan.

Nabi Muhammad saw memberikan pesan yang jelas bahwa generasi muda harus diberikan kepercayaan dan peran yang penting dalam perjuangan dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Saidina Ali bin Abi Thalib adalah sosok seorang pemuda yang telah berani melaksanakan tugas menggantikan posisi Rasulullah untuk tidur di kamar Rasulullah saw ketika orang-orang kafir Quraisy telah mengepung rumah beliau dengan maksud membunuhnya.

Usamah bin Zaid adalah sosok seorang pemuda pemberani dan memiliki kemahiran dalam peperangan. Dia adalah panglima perang yang terakhir yang diangkat oleh Rasulullah saw ketika dia masih berusia 18 tahun, masih sangat muda remaja. Ternyata dia berhasil dan berkali-kali merebut kemenangan memimpin peperangan melawan kaum kafir.

Sudah saatnya generasi tua hari ini mau memberi kepercayaan kepada generasi muda. Janganlah menjadi generasi tua yang selalu menjadi juara bertahan tidak mau memberi kesempatan kepada anak muda. Apalagi menjadi orang tua yang selalu curiga kepada anak muda, pada hal mereka adalah anak-anak muda kita. Apakah kita harus menunggu generasi muda dari negara lain yang akan memimpin negeri ini?

Tantangan perjuangan dalam kehidupan beragama dan bernegara ke depan akan semakin besar, dan persaingan akan semakin ketat. Kita butuh pejuang-pejuang yang tangguh, mereka adalah generasi muda, karena mereka masih kuat, mereka memiliki semangat yang tinggi, mereka memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas, yang pasti mereka lebih energik.

Beri mereka kepercayaan, beri mereka kesempatan, karena masa depan adalah milik mereka. Ikutilah uswah yang diberikan oleh Rasululullah saw yang mengangkat Usamah bin Zaid di kala usianya baru belasan tahun. Memang sebuah keputusan yang sangat berani dan kontroversial yang dilakukan oleh Rasululullah, tetapi ada pesan yang jelas yang disampaikan beliau: “bahwa perjuangan untuk melaksanakan tugas risalah dakwah Islamiyah ke depan harus diserahkan kepada generasi muda”. Pemuda di depan orang tua di belakang, insya Allah kita menang dan tidak akan menang-is.

Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb

Sumber : sangpencerah.id

Mahasiswa UMT Mengukir Prestasi ditengah Sulitnya Situasi PPKM Level 4

Mahasiswa UMT Mengukir Prestasi ditengah Sulitnya Situasi PPKM Level 4

Mahasiswa S1 Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan meraih juara 1 Cabang Lomba Nursing Skill dan juara 2 Cabang Lomba Cerdas Cermat pada kegiatan Competition of Nursing and Inovation Student Tingkat Nasional 2021, yang diselenggarakan STIKes Jendral Achmad Yani Cimahi pada tanggal 27-28 Juli 2021 (27-28/7).

Alpan Habibi, sebagai dosen pendamping dari UMT menyampaikan, sebanyak 4 tim dikirim, terdiri dari 3 cabang lomba untuk berkompetisi di kegiatan tersebut.

“Kami kirim 4 tim, 2 tim cabang lomba cerdas cermat, 1 tim cabang lomba debat, dan 1 tim cabang lomba nursing skill”, tulisnya dalam pesan singkat.

Alpan yang juga sebagai sekretaris program studi Pendidikan Profesi Ners, mangatakan tentang proses dari awal hingga akhir perlombaan yang menurutnya begitu berkesan.

“Sejak kami lakukan sosialisasi dan seleksi secara online kepada peserta, terpilihlah 4 tim, namun saat itu beberapa peserta ada yang terpapar COVID-19”, ucapnya.

“Saya amat bangga dengan semua mahasiswa yang menjadi peserta dari tim UMT Semangatnya luar biasa, belajar tanpa lelah, dan berjuang tanpa henti, sampai bisa masuk grandfinal semua.

Sementara Fauzan Hakim, MM, selaku Wakil Dekan 2 FIKes UMT, mengucapkan Terima kasih kepada mahasiswa, dosen pendamping dan semua pihak yang berkontribusi, yang telah mengharumkan nama FIKes UMT. Dengan capaian Juara 1 dan 2 ini membuktikan bahwa Kampus FIKes UMT pantas disebut sebagai Kampus Sang Juara. Oleh karena itu bagi yang sedang mencari tempat kuliah dan ingin merasakan atmosfer kompetisi juara segera daftar di FIkes UMT.

“Terima kasih, saya ucapkan kepada mahasiswa, dosen pendamping, dan semua pihak yang sudah berperan membantu mengharumkan nama FIKes UMT, semoga berkah.” Tutupnya.

Hasil Pelaksanaan Uji Kompetensi (UKom) mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan

Hasil Pelaksanaan Uji Kompetensi (UKom) mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan

Hasil Pelaksanaan Uji Kompetensi (UKom) mahasiswa Program Studi D3 Kebidanan Periode Juni 2021 yang diikuti seluruh mahasiswa tingkat akhir sudah diterbitkan dan pencapaian luar biasa didapatkan oleh seluruh mahasiswa bahwa tingkat kelulusan yang didapatkan adalah 100% Lulus Kompeten. Artinya semua mahasiswa sebagai peserta Ukom berhasil Lulus dan Kompeten sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Pencapaian yang sangat baik ini tentunya diperoleh karena ketekunan dan kerja keras baik yang dilakukan oleh Mahasiswa, Dosen beserta Pimpinan Program Studi dan Fakutas yang begitu intens terus melakukan monitoring kepada mahasiswa agar berhasil dalam pelaksanakan Ukom sehingga bisa diluluskan dari Program Studi D3 Kebidanan.

Perlu diketahui bahwa dengan kebijakan saat ini sudah menerapkan Ukom Exit Exam, dimana syarat untuk dapat lulus dari Program D3 Kebidanan harus Lulus Ukom sehingga bisa mengikuti Wisuda tahun ini. Dengan kebijakan baru tersebut tentunya Pimpinan Prodi membuat program dan strategi agar mahasiswa fokus dan mengikuti program yang dimiliki sehingga dapat berhasil sesuai program, demikian yang disampaikan Kaprodi D3 Kebidanan Titin Martini, M.Kes

Disisi lain Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMT, Dr. Rita Sekarsari, S.Kp, MHSM mengapresiasi pencapaian luar biasa yang sudah dilakukan mahasiswa sehingga bisa berhasil Lulus 100% UKom Exit Exam. Beliau berharap agar pencapaian ini menjadi bukti bahwa Lulusan FIKes UMT memang benar-benar kompeten dan bisa memiliki keunggulan dan daya saing yang tinggi dan semoga Program Studi yang lain bisa mengikuti jejak Prodi Kebidanan.

PPKM Darurat (Lockdown terbatas) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Tangerang diperpanjang

PPKM Darurat (Lockdown terbatas) di lingkungan Universitas Muhammadiyah Tangerang diperpanjang

Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Bali hingga 2 Agustus. PPKM Level 4 kembali diperpanjang guna menekan lonjakan kasus virus corona (Covid-19).

Mulanya, pemerintah menerapkan PPKM Darurat 3-20 Juli ketika lonjakan kasus mulai terjadi. Diperpanjang dengan istilah PPKM Level 4 pada 20-25 Juli. Kini PPKM Level 4 kembali diperpanjang oleh pemerintah.

Berdasarkan surat edaran no. 715/EDR/III.3.AU/F/2021, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilingkungan Universitas Muhammadiyah Tangerang pun di perpanjang dari mulai tangaal 26 Juli 2021 s.d 2 Agustus 2021. Sebelumnya PPKM darurat diberlakukan 3-20 Juli 2021 kemudian diperpanjang dari tanggal 20-25 Juli 2021

Surat edaran libur Akademik  Idul Adha 1442H

Surat edaran libur Akademik Idul Adha 1442H

Penetapan Libur Akademik Menjelang dan Selama Hari Raya Idul Adha

Sehubungan dengan edaran pimpinan pusat Muhammadiyah tentang pelaksanaan hari raya Idul Adha 1442H yang telah ditetapkan jatuh pada hari Selasa, 10 Dzulhijjah 1442 H/20 Juli 2021M, disampaikan kepada seluruh civitas akademika universitas Muhammadiyah Tangerang sebagau berikut :

  1. Dalam rangka menyambut hari raya Idul Adha dan hari tasyrik 1442 H aktifitas akademik dan pelayan administrasi di lingkungan Universitas Muhammadiyah Tangerang akan diliburkan yaitu terhitung sejak Senin sd Rabu, 9-11 Dzulhijjah 1442H/19-21 Juli 2021M.
  2. Kegiatan akademikdan seluruh pelayanan administrasi aktif kembali pada hari Kamis, 12 Dzulhijjah 1442H/ 22 Juli 2021M.
  3. Menghimbau kepada seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Tangerang untuk mengisi masa-masa libur akademik dengan berbagai kegiatan yang positif, konstruktif dan bermanfaat di lingkungan masyarakat masing-masing.
  4. Menganjurkan kepada seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Tangerang untuk melaksanakan sholat Idul adha 1442H di rumah masing-masing.

Demikian surat edaran ini disampaikan kepada segenap pimpinan, personalia, tenaga pendidik, mahasiswa dan seluruh keluarga besar Universitas Muhammadiyah Tangerang.

 

Berqurbanlah meski sekecil apapun itu, yang menilai dan memberi pahala hanyalah Allah SWT. Tak perlu mengharapkan balasan dari manusia karena yang Maha Pemurah tahu caranya bagaimana membalas. Selamat Hari Raya Kurban 1442 H

Sikap Atha’ Bin Abi Rabah Dan Nasihatnya Pada Khalifah

Sikap Atha’ Bin Abi Rabah Dan Nasihatnya Pada Khalifah

Sangpencerah.id – Atha’ Bin Abi Rabah masuk ke Istana Khalifah, Berbincang Sampai Beliau Keluar Lagi. Tapi Tak Seteguk Air pun yang beliau Minum.

Atha’ bin Abi Rabah. Beliau dikenal sebagai ulama yang luas ilmunya dan kuat wibawanya. Suatu ketika, beliau datang menemui khalifah Hisyam bin ‘Abdul Malik. Sang khalifah menyambut beliau dengan penuh penghormatan. Beliau mempersilakan Atha’ menyampaikan keperluannya. Satu per satu keperluannya dengan khalifah beliau sampaikan. Tak satupun menyangkut urusan pribadinya. Semua berkaitan dengan masalah umat.

Bahkan, Atha’ bin Abi Rabah menutup rangkaian hajatnya pada khalifah dengan nasihat takwa yang sangat menyentuh jiwa. Selesai itu, beliau langsung pamit pulang. Seorang pembantu khalifah bergegas mengejar Atha’ guna menyerahkan hadiah dari khalifah. Tapi, dengan halus, hadiah itu beliau tolak.

Rasanya, kangen sekali kita dengan sosok tokoh seperti ini. Pribadi yang tidak takluk oleh dunia. Pribadi yang memandang dunia tak lebih dari tempat singgah sementara. Pribadi yang menjaga diri dari iming-iming harta, apalagi terang-terangan meminta. Pribadi yang ketika kebenaran telah sampai di ujung lidahnya, maka tak seorang pun mampu membeli dan membelokkannya.

Tokoh seperti ini pernah bersiar dalam peradaban Islam dulu kala. Saya ingin menukil fragmen kisahnya agar dapat dibaca anak-anak kita. Mudah-mudahan, dapat menginspirasi mereka. Dapat menerbitkan harapan dan rasa bangga pada diri anak-anak kita, bahwa Islam itu indah, banyak orang mulia, tidak melulu buruk seperti yang didongengkan media massa. (Abun Nanda)

Sumber : sangpencerah.id

Hidup dengan Energi Positif

Hidup dengan Energi Positif

Pagi hari, sambutlah  sinar matahari dengan jiwa berseri.  Menghirup udara segar dengan aura jiwa menyala. Sinar sang surya dan seluruh energi yang terhampar di alam raya ini dianugerahkan Tuhan untuk disyukuri dan dimanfaatkan secara positif. Bisa berolahraga ringan, sedang, dan berat agar tubuh dan pikiran segar dan sehat. Tergantung kadar masing-masing. Apapun bisa dilakukan dengan ringan dan riang hati. Sebagai wujud kesyukuran dan memulai hidup dengan energi positif.

Bagi muslim tentu membuka lembaran hari dengan shalat subuh. Ada yang ambil shalat tahajud, tanpa perlu publikasi. Meski masih beribadah di rumah karena pandemi, tak mengurangi nilai taqarrub kepada Allah. Lakukan dengan khusyuk dan pancarkan fungsi ibadah itu untuk membangun kesalihan diri dan lingkungan. Menyambung hati, pikiran, dan seluruh diri kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa dengan sepenuh jiwa tulus dan kepasrahan. Tundukkan diri sepenuh jiwa raga, sehingga hidup optimis, penuh pengharapan positif, dan terang jalan. Itulah waktu angkatan pertama the first time dalam hidup orang beriman. Sesudahnya bisa tadarus dan membaca, agar horizon kehidupan luas dan sarat makna. Lalu bersebaran di muka bumi meraih rizki dan anugerah Allah, serta berbuat kebajikan dalam hidup. Hidup itu indah kan?

Jika memulai hidup dengan positif, maka energi yang bersemi dalam diri dan yang dihasilkan pun insya Allah positif. Kalau energinya negatif, bawaannya akan negatif.  Hatta dalam menghadapi masalah, sikapi dengan jiwa positif disertai ikhtiar dan penuh pengharapan. Ambillah spirit dan nilai Surat al-Insyirah  (Kelapangan) yang artinya: “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)? Dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu. Yang memberatkan punggungmu. Dan Kami tinggikan sebutan nama (mu) bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap.” (QS 94: 1-8).

Menjadi Insan Beriman

Surat al-Insyirah  mengajarkan hidup “Lapang”, agar insan beriman tidak serba sempit dan negatif dalam menghadapi musibah, masalah, dan rintangan. Hidup memang berwarna, ada nikmat ada masalah, ada suka dan duka, yang niscaya dihadapi dengan jiwa lapang layaknya para kesatria. Nabi dan Rasul pun menghadapi banyak masalah, rintangan, dan jalan terjal dalam kehidupan dan mengemban risalah Tuhan. Kalau Allah menghendaki pasti semuanya dimudahkan tanpa masalah. Allah mengingatkan orang beriman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS al-Baqarah: 216).

Masalah bisa datang dan pergi dalam hidup pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan dalam relasi semesta. Semuanya untuk disikapi dan dihadapi. Ada yang bisa diselesaikan, boleh jadi ada yang tidak terselesaikan sebagaimana mestinya. Jangan diratapi. Apalagi disikapi dengan amarah, sesal, kebencian, dan segala luapan negatif.

Masalah jangan memenjara diri kita menjadi sosok yang garang, pendendam, pemarah, dan penyebar energi negatif atasnama apapun. Jika hidup kita merasa benar dan lurus, ingatlah semua insan ada kelemahan, jangan gampang menghakimi dan menghujat orang lain. Tazakku atau merasa diri paling bersih dan suci itu juga tidak dibenarkan Tuhan.

Sikapi dan jalani hidup dengan jiwa “abdullah”  (hamba Allah yang selalu beribadah dan pasrah kepada-Nya) dan “khalifatul fil-ardl” (wakil Tuhan yang bertugas memakmurkan bumi) sebagaimana teladan utama para Nabi dan Rasul serta orang-orang bijak nan cerdas dan mulia hati. Tugas dan kewajiban kita dalam hidup ini ikhtiar lewat segala usaha dan do’a yang sungguh-sunguh, selebihnya tawakal dan sabar kepada Dzat Yang Maha Segalanya. Hal yang terbaik berbuatlah yang positif dan membawa kemaslahan, kebaikan, dan kemajuan hidup meskipun setahap demi setahap. Membangun sesuatu itu lebih sulit ketimbang mengkritik sesuatu, meski kritik itu tetap baik. Tapi pekerjaan utama hidup kita itu berbuat sesuatu untuk memakmurkan kehidupan sebagaimana fungsi kekhalifahan manusia di muka bumi.

Pesan untuk Milenial

Apalagi bagi generasi muda dan milenial. Perjalanan hidup bagaikan menggelar sajadah panjang. Jangan hidup untuk sekadar hidup, tapi hidup bernilai dan bertujuan raih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jalani hidup dengan kesungguhan, lapang hati, luas pandangan, dan penuh optimisme. Junjungtinggi akhlak mulia, boleh salah kemudian segera berbenah. Cintai orangtua dan sesama tanpa aura benci dan saling memusuhi.  Jangan larut dengan dunia medsos yang negatif, hoaks, kebencian, amarah, dan permusuhan.

Gunakan medsos untuk silaturahmi, kebaikan, cari ilmu, mengasah diri, dan sesuatu yang produktif. Bukalah banyak jalan dalam mengembangkan diri dan berikhtiar meraih cita-cita. Belajar dari orang lain, tapi jangan pernah menjadi dan harus sama dengan orang lain. Jalin sebanyak mungkin silaturahmi, persahabatan, dan relasi tanpa sekat agama dan batas sosial lainnya. Senang bila ada orang lain sukses, bantu  sebisa mungkin manakala ada sesama yang  bermasalah. Jadikan hidup kita berguna dan bermakna. Terus melangkah untuk berbuat yang terbaik dengan gigih, sabar, dan mengerahkan energi positif. Jangan berhenti mendekat dan bermunajat kepada Dzat Pemilik dan Penguasa Alam Semesta. Insya Allah hidup menjadi lapang dan diberkahi Allah.

Sumber : web Muhammdiyah

Hakikat Kurban dalam Islam

Hakikat Kurban dalam Islam

Ibadah kurban merupakan ritus tradisi umat Islam. Disyariatkan pada tahun kedua hijriyah, kini kurban telah membudaya dan memiliki corak tersendiri di berbagai komunitas umat Islam. Karenanya kurban memiliki hakekat yang sangat dalam dan wajib diketahui oleh seorang muslim.

  1. Definisi
  2. Etimologis
  3. Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam bukunya ‘Pengembangan HPT (II): Tuntunan Idain dan Qurban’ menyatakan bahwasannya Kurban secara etimogis berasal dari kata قرب – يقرب -قربانا (qaraba-yaqrubu-qurbanan) yang artinya mendekat.[1]
  4. Dalam kitab fiqih klasik kurban disebuat dengan أضحية (udhiyah). Imam Khatib Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj mengatakan bahwasanya أضحية berasal dari kata الضحوة yang berarti. Kurban dinamakan demikian karena waktu awal pelaksanaannya dilaksanakan pada waktu dhuha.[2]
  5. Terminologis

Imam Khatib Syirbini mendefinisikan kurban sebegai :

ما يذبح من النعم تقربا إلى الله تعالى من يوم العيد إلى آخر أيام التشريق[3]

Artinya :

“Segala yang disembelih dari hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (yang dimulai) pada hari ied sampai akhir hari tasyrik.” (Mughni/6/122)

Definisi inilah yang dikutip Dr. Wahbah Zuhaily dalam ‘al-fiqh al-Islamy wa Adillatuhu’ dan menjadi definisi kurban menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah,

هي ذبح حيوان مخصوص بنية القربة فى وقت مخصوص أو ما يذبح من النعم تقربا إلى الله تعالى في أيام النحر[4]

Artinya :

Menyembelih hewan khusus dengan niat bertaqarrub kepada Allah SWT di waktu khusus atau segala yang disembelih dari hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah pada hari nahr.”  (al-Fiqh/3/594)

  1. Filosofi Kurban

Allah SWT tidak menjadikan segala sesuatu begitu saja tanpa manfaat. Tentu di setiap ciptaan Allah SWT termasuk syariatnya  ada hikmahnya seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala :

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya :

“(Orang berakal) adalah yang mengingat Allah baik ketika berdiri, duduk, maupun tertidur, dan senantiasa memikirkan dalam penciptaan langit dan bumi (sedangkan ia berkata), wahai tuhanku sungguh engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia maha suci engkau maka hindarkan kami dari adzab neraka”. Q.S. Yusuf 111

Maka dari itu setidaknya ada tiga hakikat kurban yaitu :

  1. Bergembira atas rahmat Allah SWT.

Kurban merupakan ibadah yang disyariatkan bersama hari raya Iedul Adha. Kita diperintahkan untuk memperlihatkan kegembiraan dan sukacita yang dimanifestasikan dengan kurban. Karena dengan kurban para umat bisa menyantap hidangan daging kurban yang mungkin untuk sebagian orang hanya bisa memakannya setahun sekali. Rasulullah SAW bersabda :

إنها أيام أكل و شرب و ذكر الله تعالى

Artinya :

“Sesungguhnya hari itu (tasyrik) hari untuk makan, minum dan mengingat Allah.” (HR Muslim)

Karenanya kurban merupakan rahmat kita diperintahkan untuk memperlihatkan suka cita kita seperti yang difirmankan Allah SWT :

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُون

Artinya :

Katakanlah dengan nikmat keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka bersenang-senanglah.” (QS. Yunus 58)

Karena hal tersebut maka diharamkan berpuasa pada hari nahr hingga akhir hari tasyriq. Hal ini disabdakan oleh Nabi SAW :

نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم عن صيام يومين يوم الفطر و يوم الأضحى (متفق عليه)

Artinya :

“Rasulullah SAW melarang puasa pada dua hari yaitu hari iedul fitri dan iedul adha.” (HR Bukhari Muslim)

Bahkan Imam Taqiyyudin al-Hishni dalam kitabnya, ‘Kifayatul Akhyar’ mengatakan,

لا فرق بين أن يصومها تطوعا أو عن واجب أو عن نذر ولو صومهما لم ينعقد نذره[5]

Artinya :

Tidak ada bedanya antara puasa sunnah, qadha puasa wajib, atau puasa nadzar (tetap haram) jika tetap puasa di dua hari tersebut tidak sah nadzarnya.”

Maka dari itu hendaknya kita bergembira dan bersuka cita dengan menyantap hidangan kurban bersama keluarga dan umat Islam lainnya karena dengannya kita termasuk orang-orang yang senantiasa mengingat Allah SWT.

  1. Meneladani para Nabi

Kurban merupakan syariat qadimah yang telah ada semenjak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Bahkan sebagian ulama juga mengatakan bahwasannya kurban ada semenjak zaman Nabi Adam as. yang masyhur dengan kisah Qabil dan Habil. Dalam pensyariatan kurban tersebut terdapat kisah teladan yang perlu kita ikuti. Allah SWT berfirman :

Imam ath-Thabari mengkisahkan dalam kitabnya ‘Tarikh ath-Thabari’[6] dari Ibn Ishaq bahwasannya ketika Nabi Ibrahim as. diperintahkan untuk menyembelih anaknya, ia berkata kepada anaknya sebelum menyebutkan maksud yang sebenarnya, “Wahai anakku ambillah tali dan pisau lalu pergilah denganku ke syi’ib ini untuk mencari kayu bakar.”

Setelah pergi menuju syi’ib tersebut datanglah Iblis yang menyamar menjadi seorang lelaki untuk menghalanginya. Kemudian Iblis itu berkata kepada Nabi Ibrahim as.,”Wahai Syekh kemana hendak engkau pergi?” Nabi Ibrahim menjawab, “Aku ingin pergi ke syiib ini untuk keperluanku.” Lalu Iblis berkata, “Demi Allah sungguh aku telah melihat setan mendatangi engkau dalam mimpimu dan menyuruhmu untuk menyembelih anakmu ini, lantas engkau ingin menyembelihnya?”

Mendengar perkataan tersebut Nabi Ibrahim as. menyadari bahwasannya seorang lelaki tersebut adalah Iblis. Maka dari itu beliau berkata kepadanya,” Engkau tidak akan mendapatkan apapun dariku wahai musuh Allah, sungguh demi Allah akan kuteruskan perjalanan ini untuk melaksanakan perintah Allah.”

Setelah mendengar perkataan tersebut putus asalah Iblis untuk menggoda Nabi Ibrahim as. Maka dari itu ia pergi untuk menggoda puteranya, Nabi Ismail as yang berada di belakang ayahnya membawa tali dan pisau. Iblis berkata,”Wahai anak kecil, apakah kau tahu akan dibawa kemana dirimu oleh ayahmu?” Nabi Ismail as. menjawab, “Mencari kayu bakar untuk keluarga kami ke syi’ib ini.” Iblispun berkata, “Demi Allah sesungguhnya ayahmu membawamu kesana untuk menyembelihmu.” Nabi Ismail as. bertanya, “Mengapa demikian?” Iblis menjawab, “Ia beranggapan bahwasannya Tuhannya memerintahkan untuk melakukannya.” Nabi Ismail as berkata, “Jika demikian maka lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Tuhannya maka aku akan tunduk dan patuh.”

Setelah mendengar perkataan tersebut Iblis kembali berputus asa untuk menggoda Nabi Ismail. Maka dari itu ia pergi untuk menggoda Ibunya yaitu Sayyidah Hajar yang sedang berada di rumah. Iblis berkata, “Wahai ibu Ismail, apakah kamu mengetahui kemana perginya Ibrahim dengan Ismail? Sy. Hajar menjawab,”Pergi dengannya untuk mencari kayu bakar ke syi’ib ini.” Iblis berkata, “Seungguh Ibrahim pergi dengan Ismail untuk menyembelihnya.” Mendengarnya maka sy. Hajar mengingkarinya seraya berkata, “Tidak mungkin, sungguh ia sangat mencintainya.” Lalu Iblis berkata, “Sesungguhnya Ibrahim beranggapan bahwasannya tuhannya yang memerintahkan hal itu.” Sy. Hajar menjawab, “Jika Tuhannya memerintahkan hal tersebut maka aku akan tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.”

Setelah mendengar perkataan tersebut, maka pulanglah Iblis dengan penuh amarah karena telah gagal menggoda keluarga Nabi Ibrahim as. Maka sesampainya di syi’ib Tsabir, berkatalah Nabi Ibrahim as. kepada anaknya, “Wahai anakku, sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwasannya aku menyembelihmu.” Nabi Ismail menjawab, “Wahai Ayahku lakukanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, Insyaallah aku termasuk orang-orang yang sabar.”

Dalam kisah tersebut dapat kita petik hikmah yang sangat berarti, yaitu keteguhan Iman dalam mengerjakan perintah Allah SWT. Allah SWT telah meneguhkan Iman segenap keluarga Nabi Ibrahim as. dan dengannya rencana Iblis gagal. Maka hendaknya kita kokohkan iman dan mengerjakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT termasuk kurban ini secara sukarela, tunduk, dan patuh.

  1. Bersyukur atas Nikmat Allah SWT

Kurban merupakan momen sukacita yang menjadi salah satu dari rangkaian hari raya Idul Adha. Dalam hari raya tersebut kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersyukur terhadap segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Allah SWT berfirman,

 

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

Artinya:

Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS al-Baqarah : 152)

Maka dari itu umat Islam diperintahkan untuk menyembelih kurban sebagai manifestasi dan simbol rasa syukur terhadap Allah SWT. Setelah menyembelih kurban kita disunnahkan untuk memakannya dan membagikannya kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Karenanya kurban mencerminkan makanan yang baik dan diridhai Allah SWT. Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-baqarah :172)

Bersyukur dengan cara ini patut dilaksanakan, karena orang yang bersyukur terhadap nikmat Allah SWT akan mendapat tambahan nikmat dan ampunan dari Allah SWT. Seperti yang difirmankan Allah SWT,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Artinya:

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?. Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nisa : 147)

Arsyad Arifi, Ketua PCIM Yaman

 

[1] Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengembangan HPT (II) : Tuntunan Idain dan Qurban, t.t., hlm. 20.

[2] Imam al-Khatib asy-Syirbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani al-Minhaj; Dar al-Ihya wa at-Turats, Beirut juz 6, hlm.122.

[3] Ibid.

[4] Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengembangan HPT (II) : Tuntunan Idain dan Qurban, t.t., hlm. 20.

[5] Imam Taqiyyuddin al-Hishni, Kifayat al-Akhyar fi Halli Ghayat al-Ikhtishar, hlm. 291.

[6] Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2005, Juz 1, hlm. 165.

Mengelilingi Dunia Bersama Kitab Rihlah-Nya Ibnu Batutah

Mengelilingi Dunia Bersama Kitab Rihlah-Nya Ibnu Batutah

Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn ʿAbd Allāh al-Lawātī al-Ṭanjī ibn Baṭṭūṭah, atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Batutah, adalah salah seorang petualang terbesar dalam sejarah penjelajahan manusia mengelilingi dunia. Ada pula yang melabelinya sebagai petualang terhebat di Abad Pertengahan.

Lahir di Tangier (Maroko), pada 24 Februari 1304, Ibnu Batutah sepanjang hidupnya telah menempuh perjalanan sejauh 75.000 mil, yang setara dengan 120.000 km, suatu jarak yang amat jauh mengingat keterbatasan sarana transportasi di zaman itu. Jarak ini setara dengan tiga kali lipat jarak yang ditempuh pengembara ternama Italia, Marco Polo. Ada pula pengamat yang memperhitungkan bahwa bila ditimbang dengan situasi geografi di masa kini, maka sepanjang hidupnya Ibnu Batutah telah singgah ke 44 negara.

Perjalanan jauh pertama yang dilakukan Ibnu Batutah adalah ke Mekkah. Ia ke sana dalam rangka naik haji kala ia baru berumur 21 tahun. Tak mau berhenti di Mekkah, ia meneruskan perjalanannya ke pusat-pusat studi Islam di Dunia Arab, termasuk Mesir dan Suriah. Selepas dari sana, pengembaraannya menyentuh tempat-tempat yang bahkan lebih jauh lagi di Afrika dan Asia.

Rute perjalanan yang Ibnu Batutah tempuh tidak linear arahnya dan juga tidak dilakukan dalam satu waktu, namun cakupannya jelas sangat luas bahkan untuk ukuran sekarang. Dari rekonstruksi para sejarawan, diketahui bahwa setidaknya ada empat rute yang ia lewati dalam empat periode berbeda. Rute pertama antara lain mencakup Tangier, Algiers, Alexandria, Kairo, Yerusalem, Damaskus, Madinah, Mekkah, Baghdad dan Esfahan.

Rute kedua antara lain mencakup Aden, Mogadishu, Mombasa dan Kilwa. Rute ketiga, yang merupakan rute terpanjang, antara lain mencakup Konstantinopel (Istanbul), Astrakhan, Samarkand, Delhi, Calicut, Chitagong, Sumatra, Singapura, dan Quanzhou. Rute terakhir mencakup Marrakech, Timbuktu, dan Bamako. Ia menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk melewati tempat-tempat itu, tepatnya antara tahun 1325 hingga 1355.

Perjalanan yang jauh itu tak hanya menjadi pengalaman pribadi bagi dirinya sendiri, tapi juga dibagikannya kepada khalayak lewat buku perjalanannya yang sangat terkenal, Tuḥfat al-nuẓẓār fī gharāʾib al-amṣār wa-ʿajāʾib al-asfār, yang umumnya dikenal dengan judul Rihlah (dalam bahasa Inggris: Travels).

Ibnu Batutah
Foto Dok Istimewa

Buku Rihlah pada dasarnya disusun oleh Ibnu Batutah berdasarkan ingatannya tentang perjalanan yang ia lakukan. Ini sempat menyebabkan munculnya kritik atas akurasi dari memori Ibnu Batutah. Sebenarnya ada penulis lainnya di belakang layar, yang membantu Ibnu Batutah. Namanya Ibnu Juzayy. Kombinasi inilah yang membawa Rihlah pada eksistensinya, berisi informasi yang luas, rinci, dan beragam tentang kota-kota penting Asia dan Afrika.

Ibnu Batutah mendiktekan ingatannya tentang perjalanan yang ia lakukan pada Ibnu Juzayy, yang merupakan seorang penulis istana, di Fez, Maroko. Penulisan ini dilakukan atas perintah raja Dinasti Marinid di Maroko, Sultan Abu ‘Inan.

Di dalam Rihlah, Ibnu Batutah berkisah soal berbagai fenomena sosial, budaya, dan politik yang ia temui di kota yang dilaluinya. Ibnu Batutah tertarik dengan bagaimana para raja memerintah dan bagaimana masyarakat biasa hidup sehari-hari. Lantaran perjalannya sebagian besar dilakukan di wilayah-wilayah Dunia Islam, maka buku catatan Ibnu Batutah ini pada hakikatnya berisi gambaran perihal proses Islamisasi yang tengah berlangsung di berbagai tempat di Asia dan Afrika.

Ibnu Batutah berkawan dengan para penguasa maupun para ulama setempat, dari siapa ia mendapat informasi untuk bukunya. Di Rihlah ia menerangkan raja atau ulama di wilayah mana yang cerdas dan dermawan, atau sebaliknya, pada petualang seperti dirinya. Sebagian raja atau ulama memang baik padanya, namun ada juga yang kikir dalam memberikan bantuan. Ia pernah menyebut qadi Mekkah sebagai orang yang baik, sementara anak seorang kalifah di India sebagai sosok yang pelit. Mengingat pengetahuannya yang luas soal geografi dan kerajaan-kerajaan di berbagai wilayah, ada pula penguasa lokal yang secara sengaja mendekati Ibnu Batutah demi mengetahui cerita-cerita menarik tentang petualangannya.

Tapi, kekayaan informasi yang ada di Rihlah tidak senantiasa mudah didapatkan. Pejalanannya berkali-kali terinterupsi oleh cuaca buruk, kapal tenggelam hingga perompakan. Tak hanya itu, sebagaimana ia utarakan dalam Rihlah, ada kalanya ia merasa kesepian di dalam perjalanan, terutama di lokasi yang baru pertama kali ia datangi. Bertemu dengan orang baru yang ramahlah yang kemudian membuatnya bisa kembali ceria dan bisa melanjutkan perjalanannya.

Pembaca kitab Rihlah ini tak hanya di kampung halaman Ibnu Batutah saja, melainkan juga di Dunia Barat. Terjemahan pertama Rihlah yang utuh dibuat dalam bahasa Perancis antara tahun 1853 dan 1858. Adalah C. Defremery dan B.R. Sanguinetti, di bawah pengawasan Societe Asiatique, yang menerjemahkan dan menerbitkannya. Versi bahasa Inggrisnya, khususnya untuk bagian penjelasan tentang Bengal (India) dan Cina, diterjemahkan oleh Sir Henry Yule, dan diterbitkan oleh Hakluyt Society pada tahun 1866.

Terjemahan volume-volume lainnya dalam bahasa Inggris terbit dalam beberapa dekade kemudian, mulai dari antara tahun 1958 dan 1971, tahun 1994 dan tahun 2000. Kitab ini diakui oleh banyak pihak tak hanya sebagai dokumentasi pribadi penulisnya ke tempat-tempat baru yang ia datangi. Lebih jauh dari itu, para pembaca bisa menemukan banyak cerita tentang manusia, budaya dan dinamika sosial-politik yang unik di berbagai wilayah di Dunia Islam, mulai dari Afrika Utara, Dunia Arab, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara.

Azhar Rasyid, Penilik sejarah Islam

Sumber: Majalah SM Edisi 1 Tahun 2019